Skip to main content

Mengenal Keamanan dalam Pemanjatan (Safety Climb) & Simpul yang digunakan


Keamanan Dalam Pemanjatan (Safety Climb)

Belaying

Panker- Pada Materi kali ini akan Membahas Tentang Keamanan dalam Pemanjatan, Dalam pemanjatan tebing, orang yang pertama kali manjat disebut “leader”, sedangkan orang
kedua yang melakukan pengamanan terhadap pemanjatan pertama disebut “Belayer”. Leader
pemanjat pertama ini, memajat dengan pengamanan dari orang kedua (belayer) dengan
systembelaying yang terdiri dari tali dan ranner(raning bilay). Runner atau ranning belay adalah
pengaman untuk mengurangi bahaya jatuh. Sedangkan untuk Belaying adalah suatu cara
pengamanan untuk mengurangi bahaya jatuh pada waktu melakukan pemanjatan.
Yang harus diperhatikan dalam melakukan belay atau pengamanan :
  • Belayer harus melihat gerakan leader sedapat mungkin. Hal ini dilakukan untuk memperlancargerakan leader dalam menambah ketinggian dan dapat secepat mungkin mengantisipasi keadaan apabila leader terjatuh pada pemanjatan.
  • Belayer harus memasang pengaman untuk dirinya dirinya sendiri sebelum melakukan belaying.Hal ini sangat penting apabila belayer mengantisipasi jatuhnya leader, dimana ia mendapat bebantambahan dan sentakan darin leader yang terjatuh. Sedangkan pengaman untuk belayer sendiri minimal dua buah.

Ascending

Suatu tehnik yang memanfaatkan tali dan atau ascendeur fungsinya untuk memudahkan kita dalam menambah ketinggian dimana faktor keamanan lebih terjamin
Jenis-jenisnya :
  • Prusiking : suatu tehnik naik dengan menggunakan tali prusik.
  • Jummaring : suatu tehnik naik dengan menggunakan jumar.
  • SRT( Singgle Rope Tehnic) : Suatu tehnik dimana kita bisa naik dan turundengan menggunakan SRT set.

Descending

Suatu tehnik turun yang memanfaatkan tali dan gesekan tali itu sendiri fungsinya untuk
memudahkan kita dalam turun/menuruni tebing dimana faktor keamanan lebih terjamin.
Jenis-jenisnya :
  • Teknik Turun / Rappeling
    Teknik ini digunakan untuk menuruni tebing. Dikategorikan sebagai teknik yang sepenuhnya bergantung dari peralatan. Prinsip rappelling adalah sebagai berikut :
    • Menggunakan tali rappel sebagai jalur lintasan dan tempat bergantung.
    • Menggunakan gaya berat badan dan gaya tolak kaki pada tebing sebagai pendorong gerak turun.
    • Menggunakan salah satu tangan untuk keseimbangan dan tangan lainnya untuk mengatur kecepatan.

Macam-macam dan Variasi Teknik Rappeling

  1. Body RappelMenggunakan peralatan tali saja, yang dibelitkan sedemikian rupa pada badan. Pada teknik ini terjadi gesekan antara badan dengan tali sehingga bagian badan yang terkena gesekan akan terasa panas.
  2. Brakebar RappelMenggunakan sling/tali tubuh, carabiner, tali, dan brakebar. Modifikasi lain dari brakebar adalah descender (figure of 8). Pemakaiannya hampir serupa, dimana gaya gesek diberikan pada descender atau brakebar.
  3. Sling RappelMenggunakan sling/tali tubuh, carabiner, dan tali. Cara ini paling banyak dilakukan karena tidak memerlukan peralatan lain, dan dirasakan cukup aman. Jenis simpul yang digunakan adalah jenis Italian hitch
  4. Arm Rappel / HestiMenggunakan tali yang dibelitkan pada kedua tangan melewati bagian belakang badan. Dipergunakan untuk tebing yang tidak terlalu curam.Dalam rapelling, usahakan posisi badan selalu tegak lurus pada tebing, dan jangan terlalu cepat turun. Usahakan mengurangi sesedikit mungkin benturan badan pada tebing dan gesekan antara tubuh dengan tali. Sebelum memulai turun, hendaknya :
    1. Periksa dahulu anchornya.
    2. Pastikan bahwa tidak ada simpul pada tali yang dipergunakan.
    3. Sebelum sampai ke tepi tebing hendaknya tali sudah terpasang dan pastikan bahwa tali sampai ke bawah (ke tanah).
    4. Usahakan melakukan pengamatan sewaktu turun, ke atas dan ke bawah, sehingga apabila ada batu atau tanah jatuh kita dapat menghindarkannya, selain itu juga dapat melihat lintasan yang ada.
    5. Pastikan bahwa pakaian tidak akan tersangkut carabiner atau peralatan

Simpul-simpul yang Digunakan Dalam Pemanjatan

1. Simpul Delapan Ganda

Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan
tubuh atau harnest. Toleransi 55% – 59%.
Simpul delapan Ganda



2. Simpul Delapan Tunggal

Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan
tubuh atau harnest apabila carabiner tidak ada Toleransi 55% – 59%
Simpul Delapan Tunggla

3. Simpul Pangkal

Untuk mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada
anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.
Simpul Pangkal

4. Simpul Jangkar

Untuk mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada
anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.
Simpul Jangkar

5. Simpul Kambing / bowline knot

Untuk pengaman utama dalam penambatan atau pengaman utama yang dihubungkan dengan
penambat atau harnest. Toleransi 52%.
Simpul Kambing

6. Simpul Kupu – kupu / Butterfly knot

Untuk membuat ditengah atau diantara lintasan horizon. Bisa juga digunakan untuk menghindari
tali yang sudah friksi. Toleransi terhadap kekuatan tali 50%. 
Simpul Kupu-kupu

7. Simpul Nelayan / Fisherman Knot

Untuk menyambung 2 tali yang sama besarnya dan bersifat licin. Toleransi 41% – 50%
Simpul Nelayan


8. Simpul Frusik

Simpul yang digunakan dalam teknik Frusiking SRT
Simpul Ferusik

9. Simpul Pita

Untuk Menyambung Tali yang sejenis, yang sifatnya licin atau berbentuk pipih (umumnya
digunakan untuk menyambung Webbing)
Simpul Pita

10. Simpul Italy

Untuk repeling jika tidak ada figure eight atau grigri. Toleransi terhadap kekuatan tali akan
berkurang 45%.
Simpul italy

11. Overhand Knot

Untuk mengakhiri pembuatan simpul sebelumnya. Toleransi terhadap kekuatan tali akan
berkurang sebesar 40%
Overhand Knot

12. Clove hitch knot

Untu mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada
anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.
Clove Hitch Knot

Jenis-Jenis Penambat Alami/Anchor

Natural Ancor/ Penambat Alami

penambat alamiah yang tersedia oleh alam,Contoh : Batang pohon, Akar pohon, Batu besar
yang dijamin kuat

Artificial Ancor/ Penambat Buatan

Alat yang didesain secara khusus untuk digunakan sebagai penambat, contoh : Piton, sky hook,
Brigbo, ramset, hunger, stoper.

Jenis-Jenis Pegangan


  1. Open Grip :Pegangan pada pemanjatan yang dilakukan dengan posisi tangan terbuka,biasanya digunakan pada tebing – tebing datar
  2. Cling Grip :Pegangan pada pemanjatan yang dilakukan degan menggunakan seluruh jari tangan dan dan agak mirip mencubit biasanya digunakan pada tebing yang permukaannya banyak tonjolan,
  3. Pinch Grip :Pegangan pada pemanjatan yang mirip dengan mencubit,dan mengandalkan kekuatan jempol dan telunjuk yang biasa digunakan untuk memegang poin – poin kecil pada tebing
  4. Poket Grip :Pegangan pada pemanjatan dilakukan dengan cara memasukkan jari – jari kedalam celahan/ lobang tebing, biasanya digunakan pada tebing limenstone ( kapur ) yang banyak memiliki poin lobang.
  5. Vertikal Grip :Pegangan pada pemanjatan yang bertumpu pada poin tebing dengan menggunakan kekuatan lengan untuk bertumpu dan menaikkan badan.

Jenis-Jenis Pijakan


  1. Frinction Steep :
    Pijakan dalam pemanjatan yang bertumpu pada kaki bagian depan dan mengandalkan gesekan karet sepatu.
  2. Eadging :Pijakan dalam pemanjatan yang menggunakan sisi luar kaki.
  3. Mearing :Pijakan dalam pemanjatan yang menggunakan seluruh alas kaki (Pijakan Biasa)
  4. Hel Hooking :Pijakan dalam pemanjatan yang dilakukan untuk mengantisipasi poin2 yang menggantung dengan menggunakan kekuatan kaki untuk mengangkat badan keatas untuk menggapai poin selanjutnya.
Oke Sobat Pecinta Alam Semoga Artikelnya Bermanfaat dan Bisa menambah Wawasan ya.....
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar